Tampilkan postingan dengan label Bursa Jakarta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bursa Jakarta. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 November 2018

Bursa Jakarta dan Perolehan

Bursa Jakarta sepanjang 2018 mencatatkan banyak hal termasuk salah satunya adalah pertumbuhan untung rugi dari berbagai emiten yang ada di Indonesia. Di tengah gejolak ekonomi yang makin menjadi-jadi, nampaknya berbagai perusahaan perlu untuk lebih memastikan keberlangsungan hidupnya dengan lebih cermat dan terstruktur.

Bursa Jakarta
Bursa Jakarta
Dari 10 emiten dengan perolehan laba terbesar dalam sembilan bulan pertama tahun ini, enam di antaranya berhasil meraih laba di atas Rp 10 triliun. Kemudian dari 10 perusahaan tersebut hanya satu yang labanya hingga triwulan III 2018 turun dibanding sebelumnya, yakni Telekomunikasi Indonesia (TLKM). Total laba 10 emiten tersebut mencapai Rp 136,14 triliun yang berarti tumbuh 14,69% dibanding sebelumnya.

Tiga, dari 10 emiten dengan laba terbesar tersebut bahkan mencatat pertumbuhan lebih dari 30% dalam sembilan bulan pertama tahun ini dibanding tahun sebelumnya. Ketiga emiten tersebut adalah Indah Kiat (INKP), United Tractors (UNTR) dan Unilever (UNVR) masing-masing mencatat pertumbuhan laba sebesar 89,56%, 60,89% dan 39,66%.

Minggu, 07 Oktober 2018

Semakin Loyonya Bursa Jakarta Ditengah Ketidakpastian Global

Pada awal Oktober ini, Bursa Jakarta mengalami penurunan yang tercatat sebagai yang terbesar ketiga di kawasan Asia. Menurut data Bloomberg, IHSG telah mengalami penurunan sebanyak 16.99%, yang merupakan penurunan bursa tertinggi sepanjang tahun ini yang biasanya hanya berkisar di angka 7-10%. Penyebab utama penurunan ini disebabkan oleh menurunnya mata uang rupiah yang semakin loyo ke level 15.000 per dollar AS. Superiornya dolar terhadap mata uang dunia juga dampak perang dagang antara Amerika dan Cina membuat bursa di Asia tertekan.

Bursa Jakarta
Bursa Jakarta
Kenaikkan bea masuk yang besar dari dua negara yang terlibat perang dagang ini membuat negara-negara lain mendapatkan efek ketidakpastian, terutama terkait pertumbuhan ekonomi global. Dalam hal ini para investor akan memilih berinvestasi ke produk yang dianggap lebih aman yakni dolar AS. Penurunan bursa ini selain mengganggu aktivitas secara umum, juga membuat berbagai mata uang terpuruk. Namun keadaan bisa berbalik jika perubahan masif terjadi setelah perang dagang ini. Tentunya dengan harapan akan berimbas positif untuk perdagangan di Indonesia.