Tampilkan postingan dengan label Pasar Obligasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pasar Obligasi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 November 2018

Pasar Obligasi Nasional

Pasar Obligasi tanah air saat ini sangat diminati oleh para investor asing meskipun dalam beberapa waktu kedepan akan ada kenaikan suku bunga acuan the Fed maupun Bank Indonesia. Tingginya minat investor untuk berinvestasi pada pasar obligasi memberikan dampak yang positif bagi perekonomian tanah air. Pasalnya, tingginya investasi asing pada pasar modal dan obligasi mampu memperkuat nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat hingga penguatan kebeberapa level pada belakangan ini.
Pasar Obligasi
Pasar Obligasi

ADB atau Bank Pembangunan Asia mengatakan bahwa pasar obligasi tanah air pada kuartal ke 3 tahun 2018 telah mengalami kenaikan dan disebut yang paling tinggi jika dibandingkan dengan negara - negara di asia timur lainnya. Pasar Obligasi nasional tumbuh sebesar 13,9% (Yo) jika diabndingkan dengan periode yang sama tahun lalu sehingga menjadi 185 miliar dolar Amerika Serikat atau setara dengan 2.682,5 triliun rupiah.

Penyebab tingginya kenaikan pasar obligasi tanah air ini adalah karena gencarnya Pemerintah Indonesia dalam menerbitkan Obligasi Pemerintah. ADB menyebutkan ada sejumlah resiko jangka pendek yang membayangi kepemilikan asing dalam obligasi Pemerintah dalam jumlah besar yakni penarikan dana asing dan naiknya suku bunga acuan bank Sentral Amerika Serikat.

Senin, 15 Oktober 2018

Menciptakan Ruang Terbaik Pasar Obligasi

Pasar Obligasi di Indonesia menjadi satu-satunya yang memiliki kestabilan terhadap beragam isu yang berkembang. Dibandingkan dengan saham, pasar obligasi ternyata lebih tahan banting terutama saat terjadi nilai tukar rupiah yang makin anjlok terhadap dolar amerika.

Pasar Obligasi
Pasar Obligasi
Ketidakpastian pasar finansial global terkait kenaikan suku bunga The Fed (bank sentral AS), perang dagang serta defisit neraca perdagangan Indonesia yang kian melebar membuat rupiah terpuruk hingga di atas level Rp 15.000/dolar AS. Imbasnya harga saham dan obligasi turun membuat para investor banyak yang mengalami kerugian sepanjang tahun ini.

Nilai tukar rupiah yang terus melemah menyebabkan sejumlah investor khawatir dan berdampak pada penurunan sejumlah nilai saham ternama di bursa. Hal ini membuat proses investasi begitu mengkhawatirkan, terutama ketika nantinya nilai rupiah semakin jatuh. Bagaimana cara pemerintah mengatasinya?